PALANGKARAYA-KALTENG (bharatanews): Falsafah Huma Betang warisan nenek moyang masyarakat Kalimantan Tengah (Kalteng) tidak boleh tidak harus dijaga dan dipelihara. Sebab, nilai luhur yang terkandung di dalamnya mencerminkan kehidupan majemuk, berbagai khasanah budaya, ras dan agama, namun hidup berdampingan secara damai dan saling menghotmati.
Jika hal itu dijalani secara benar dan tepat, maka secara psikologis tak lagi ada rasa egoisme, kesukuaan, perselisihan agama dan lainnya. Bahkan menjadi dorongan besar bagi pembangunan keseluruhan Bumi Tambun Bungai, Kalimantan Tengah.
Demikian ditegaskan Gubernur Kalteng, Agustin Teras Narang, pada forum kuliah umum yang di gelar Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMP), Senin (18/6), yang juga dihadiri Ketua Umum DPP Muhammdiyah, Dien Syamsudin, Wakil Gubernur Kalteng, H. Achmad Diran, dan seluruh civitas akademika perguruan tinggi tersebut.
“Dengan falsafah Huma Betang dan Belom Bahadat, kita melaksanakan sekaligus mengamalkan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tungka Ika,” kata Teras menjabarkan pilosopis yang menjadi dasar kehidupan masyarakat di Kalteng.
Atas dasar itulah, lanjutnya, pada 22 Pebruari 2012 telah dilakukan deklarasi Mandomai di STM Mandomai, sebagai pengejawantahan kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara, dalam menyemangati persatuan dan kesatuan.
“Sudah saatnya kita mulai menyadari kekeliruan masa lalu, kemudian menata kembali kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk itu, sangat diharapkan masyarakat Kalteng agar menjaga rasa kebersamaan, tenggang rasa, dan toleransi dalam mengisi pembangunan. Yang pada akhirnya, masyarakat sendiri yang akan merasakan,” papar Teras.
Pada bagian lain, Gubernur Kalteng berharap para pembicara kuliah umum UMP dapat memberikan spirit dan dorongan kepada para mahasiswa agar menjadi pilar kemajuan pemikiran masyarakat, serta ujung tombak dalam mewujudkan masyarakat madani. Sebab, cita-cita dari pembangunan itu sendiri, sangat diharapkan perwujudan masyarakat seperti itu. (kp/tho)
