Stop Press: Setiap Wartawan Bharatanews.com Dilengkapi Identitas Diri, Serta Nama Tercantum Pada Kanal Redaksi. Tindakan Di Luar Penugasan Jurnalis, Bukan Tanggung Jawab Pengelola.
Minggu, 24 Juni 2012

Setelah BBM, Kini Gula Raib di Palangka Raya




PALANGKA RAYA-KALTENG (bharatanews): Baru saja usai kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di kawasan Kalimantan Tengah, kini giliran gula pasir sukar didapat di wilayah Palangka Raya, Ibukota Kalimantan Tengah. Kalaupun ada, harganya selangit, dan tidak banyak toko kelontong maupun warung yang menjual.

Kelangkaan gula pasir mulai dirasakan masyarakat dan pedagang sejak sepekan belakangan ini. Distributor di Palangka Raya tak lagi mendistribusikan gula pasir ke agen-agen di pasar dan pedagang grosir lainnya. Barang dagangan yang dijual merupakan stok yang ada sebelumnya. Tapi, jika tidak segera diantisipasi kelangkannya, maka kasusnya akan sama dengan raibnya BBM bersubsidi premium beberapa waktu lalu.

Salah satu agen gula pasir di Pasar Besar Palangka Raya mengakui, sejak sepekan ini dirinya belum mendapat kiriman. Bahkan ketika hal itu ditanya kepada distributor, dijelaskan memang belum ada pengiriman baik dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, maupun Jawa.

“Saya disuruh menunggu kabar berikutnya. Ini bahaya, apalagi mendekati bulan Ramadhan, di mana masyarakat sangat membutuhkan gula,” kata pedagang itu, kemarin.

Sebagai pedagang, katanya, masalah kelangkaan barang dagangan berupa sembilan bahan pokok (Sembako) jelang bulan puasa, bagi dia bukan sesuatu yang aneh. Sudah biasa. Persoalan itu tidak lain merupakan permainan distributor dalam hal mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.

“Kenapa bisa begitu? Ya, kelebihan keuntungan itu buat bayar THR karyawannya. Tapi, perdagangan kurang fair itu yang dirugikan adalah masyarakat, selaku pembeli. Termasuk saya, dan pedagang lain di pasar ini,” ujarnya setengah emosi.

Menurut dia, sangat tidak masuk akal pabrik gula di Jawa dan Sumatera belum berkirim produksinya. Sepengetahuannya, setiap bulan ratusan ton gula asal dua daerah itu disuplai ke Kalteng dan Kalsel. “Tak mungkin lah kekurangan gula. Tapi, lantaran permainan distributor, maka produk itu pun jadi langka di sini,” sungut pedagang itu lagi.

Hasil pemantauan harga jual gula pasir di pasar itu, terjadi lonjakan yang sangat signifikan. Dari yang semula Rp 11.000/kg, dinaikan bertahap hingga menjadi Rp 15.000 per kg. Alasan pedagang, karena stok gula pasir semakin menipis, mau tidak mau harga terpaksa disesuaikan. Sebab, setelah kelangkaan, harga jual dapat dipastikan naik. Apalagi menjelang bulan puasa, tak tertutup kemungkinan mencapai Rp 18.000/kg.

Operasi Pasar

“Apapun namanya, jika terjadi lonjakan harga jual Sembako, maka masyarakat lah yang dirugikan. Saya berharap, kelangkaan gula pasir ini harus dipantau pemerintah setempat. Paling tidak, perlu dilakukan operasi pasar guna mengantisipasi permainan curang pedagang besar gula,” kata Widarti, warga Palangka Raya, kemarin.

Ketika masalah itu dipertanyakan kepada Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Pemerintah Provinsi Kalteng, Henky, dijelaskan, bahwa kenaikan harga gula pasir bukan hanya di Palangka Raya atau Kalteng saja, tapi terjadi secara nasional. Hal itu disebabkan karena pabrik gula di Jawa belum berproduksi secara maasal untuk pengiriman ke seluruh daerah-daerah.

Jika memang tejadi kelangkaan, katanya, kemudian disusul terjadi kenaikan harga jual gula pasir, maka pemerintah akan melakukan operasi pasar agar bisa menekan kenaikan yang dapat merugikan masyarakat. Dia berkeyakinan, lonjakan harga itu bukan akal-akalan pedagang dalam hal mencari keuntungan semata, tapi merupakan permainan distributor.

Henky menegaskan, pemerintah akan terus memonitoring perkembangan harga dan distribusi gula hingga menjelang Ramadhan. Bila kondisinya tak terkendali, pihaknya segera melakukan operasi pasar. Bukan hanya di Palangka Raya saja, melainkan seluruh daerah di Kalteng.

"Masyarakat tak perlu khawatir, stok gula yang ada masih tergolong aman. Mudah-mudahan minggu depan harga kembali seperti semula, normal," katanya kepada wartawan. (kp/tho)