Stop Press: Setiap Wartawan Bharatanews.com Dilengkapi Identitas Diri, Serta Nama Tercantum Pada Kanal Redaksi. Tindakan Di Luar Penugasan Jurnalis, Bukan Tanggung Jawab Pengelola.
Selasa, 03 Juli 2012
Diduga Akibat Pencurian Listrik
Gawat, 158 Rumah Ludes Terbakar di Tambora

Dibaca: 17854 kali



JAKARTA (bharatanews): Kebakaran kembali melalap pemukiman padat penduduk di kawasan Jembatan Besi, Tambora, Jakarta Barat, sekitar pukul 08.30 WIB, hari ini. Api diduga akibat korsleting listrik dari salah satu kontrakan warga, menghanguskan sedikitanya 158 rumah.

Si Jago Merah baru berhasil dipadamkan beberapa jam kemudian, setelah dinas pemadam kebakaran menurunkan 42 unit mobilnya. Pada peristiwa itu menewaskan Tatang (21), serta empat korban luka-luka lainnya. Kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Menurut Kepala Operasional Pemadam Kebakaran Jakarta Barat (Damkar Jakbar), Sutarno, upaya pemadaman api dilakukan petugas gabungan dari Damkar Jakarta Pusat, DKI Jakarta dan Damkar Jakbar.

 "Seluruhnya ada 42 unit mobil Damkar yang diterjunkan ke lokasi kebakaran. Damkar wilayah Jakarta Pusat 8 kendaraan, Kantor Dinas Damkar DKI Jakarta 5 unit, dan sisanya kami,," jelasnya kepada wartawan di lokasi kejadian, hari ini.

Sutarno menambahkan, pihaknya mengalami kesulitan menuju lokasi kebakaran, mengingat kondisi rumah penduduk begitu rapat, dan bergang sempit. Tentu saja hal itu membuat terhambat petugas memadamkan api.

“Yang jadi kendala karena di pemukiman itu jalannya sempit, ditambah lagi banyak warga dan wartawan berkumpul di sekitar lokasi kebakaran, sehingga sedikit sukar melakukan pemadaman," keluhnya.

Di tempat terpisah, Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Tambora, Donni Eka Putra, menjelaskan, musibah itu menewaskan satu warga, dan empat orang lainnya luka-luka. Korban Tatang adalah warga Rt 2/7 Kelurahan Jembatan Besi, Kecamatan Tambora, Jakbar, hangus terbakar di salah satu rymah warga yang juga turut dilalap Si Jago Merah.

"Korban diduga terjatuh dari atap rumah yang terbakar. Seluruh tubuh Tatang hangus di antara tumpukan plat seng yang dijadikan atap rumah," ungkap Donni Eka Putra kepada wartawan, hari ini.

Masih kata Donni, saat ini korban yang tewas telah di evakuasi ke RSCM untuk di outopsi, sedangkan empat orang yang luka-luka dibawa kepuskesmas Tambora guna mendapat pertolongan.

"Anggota kami masih menyelidiki penyebab kebakaran tersebut, apakah karena korsleting arus pendek atau kerena hal lain," kata Kapolsek Tambora.

Pencurian Listrik

Pada bagian lain, Camat Tambora, Isnawa Adji, menjelaskan, jumlah penduduk yang memadati wilayah Tambora , diperkirakan sekitar 277.000 jiwa. Tempat tinggal mereka berhempitan satu sama lain, sehingga menimbulkan rawan kebakaran. Ia  juga mengakui, sejauh ini kawasan itu sering kali terjadi musibah kebakaran.

"Bukan ini kali saja kebakaran terjadi. Itu lantaran, kawasannya kecil namun berpenduduk overload," katanya kepada wartawan di lokasi kejadian, hari ini.

Terkait seringnya terjadi kebakaran, lanjut Camat Tambora, pihaknya sering melakukan pengawasan listrik ke rumah-rumah penduduk dan jalan raya untuk menghindari kebakaran. "Setiap minggu kami melakukan sweeping listrik. Karena banyak warga nyolong listrik, maka sering terjadi musibah kebakaran lantara korsleting," ungkapnya.

Untuk bantuan paskah kebakaran, lanjut dia, pihaknya akan menyiapkan tenda-tenda bantuan untuk pengungsi. Bantuan relawan yang terlatih masalah kebakaran pun sudah diturunkan untuk membantu warga.

"Pihak Kecamatan akan membantu semaksimal mungkin warga yang rumahnya terbakar. Termasuk mengurus surat-surat atau dokumen penting yang terbakar," jelas Isnawa Adji.(pan/rah/sin)

Catatan Redaksi:

Penjelasan Camat Tambora tentang pihaknya melakukan sweeping listrik seminggu sekali ke rumah-rumah penduduk di kawasannya, kedengarannya agak aneh. Artinya, tindakan itu seharusnya dapat menekan pencurian listrik yang diduga dilakukan warga, sebagai penyebab musibah kebakaran. Tapi, kenapa justru peristiwa itu terjadi lagi, terjadi lagi.

Pertanyaannya, apakah betul pengawasan atas penggunaan secara ilegal aliran listrik oleh warga setempat selalu dilakukan setiap minggu oleh aparat Kecamatan Tambora, atau memang pemukim di lokasi itu bertalenta pencuri sehingga tak peduli atas musibah kebakaran? Ini perlu dicermati, sekaligus memberikan sanksi hukuman berat terhadap pelaku pencurian listrik. (sin)