Jakarta ||Bharatanews.com-Nama Soeharto tak pernah benar-benar hilang dari ingatan publik. Selama lebih dari tiga dekade memimpin Indonesia, sosok yang dijuluki The Smiling General ini meninggalkan jejak panjang baik dalam kepemimpinan maupun kontroversi. Bahkan setelah wafat pada 21 Mei 1998, warisannya masih menjadi perbincangan, termasuk kediaman pribadinya di Jalan Cendana No. 8.
Rumah tersebut berdiri kokoh sejak era 1960-an dan hingga kini tetap dipertahankan dalam bentuk aslinya oleh keluarga besar Cendana. Tidak sekadar hunian, bangunan ini menjadi saksi bisu perjalanan hidup seorang presiden yang pernah memegang kendali penuh atas negeri ini. Dominasi warna hijau yang khas masih melekat, menghadirkan nuansa tenang sekaligus berwibawa.
Memasuki area depan, hamparan halaman luas menyambut dengan rapi cukup untuk menampung banyak kendaraan saat acara keluarga besar digelar. Deretan tanaman, termasuk tanaman obat seperti kumis kucing, memperlihatkan sentuhan alami yang sederhana namun terawat.
Di dalam rumah, nuansa klasik langsung terasa. Ruang tamu utama yang dahulu kerap digunakan oleh Tien Soeharto tampil elegan dengan sofa bernuansa krem. Ruangan ini menjadi tempat menerima tamu penting, mencerminkan keramahan sekaligus formalitas keluarga presiden.
Salah satu sudut paling mencuri perhatian adalah keberadaan gading gajah berukuran besar dengan ukiran artistik cinderamata dari para tamu. Tak jauh dari sana, lemari kaca dipenuhi koleksi benda antik dan suvenir dari dalam maupun luar negeri, menandakan luasnya relasi internasional yang pernah dijalin Soeharto.
Memasuki ruang kerja pribadi, suasana terasa lebih intim. Meja kerja yang sederhana masih menyimpan benda-benda asli seperti kacamata, cerutu, hingga alat tulis yang dahulu digunakan untuk menelaah laporan negara. Di ruangan ini pula terpajang lukisan bernuansa epik serta foto kebersamaan dengan tokoh dunia seperti Mahathir Mohamad dan Lee Kuan Yew.
Tak hanya itu, potret besar Soeharto bersama istrinya menghiasi dinding, berdampingan dengan figur wayang Semar tokoh yang mencerminkan filosofi hidup yang ia kagumi. Di sudut lain, dua akuarium besar berisi ikan, termasuk arwana, menambah kesan hidup dalam rumah yang sarat kenangan tersebut.
Kini, keluarga berencana menjadikan rumah ini sebagai museum. Tujuannya bukan sekadar mengenang, tetapi juga memberi kesempatan kepada masyarakat untuk melihat langsung bagaimana kehidupan seorang presiden dijalani apa adanya, tanpa banyak perubahan sejak dulu.
Rumah di Cendana bukan hanya bangunan. Ia adalah kapsul waktu menyimpan cerita tentang kekuasaan, keluarga, dan sejarah Indonesia yang tak lekang oleh zaman.
Sumber : Merdeka.com
#Soeharto #Cendana #SejarahIndonesia #RumahBersejarah #OrdeBaru #TokohNasional #JejakSejarah













