Jenderal Rudini Selamat Meski Diberondong 27 Tembakan

Jakarta | Bharatanews.com Nama Jenderal TNI (Purn.) Rudini mungkin sangat lekat di telinga alumni IPDN dan prajurit TNI. Namun, tak banyak yang tahu bahwa mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) dan Menteri Dalam Negeri era Orde Baru ini punya kisah hidup yang luar biasa dramatis, mirip film aksi!

 

Mulai dari diejek karena postur tubuhnya yang kecil, hingga selamat dari hujan peluru, berikut kisah sang Jenderal legendaris yang penuh integritas.

 

1. Dicemooh di Belanda karena Tubuh Kecil

Pada tahun 1951, Rudini muda lolos seleksi dan dikirim untuk menempuh pendidikan militer di Akademi Militer Kerajaan (KMA) Breda, Belanda. Di sana, fisiknya ditempa habis-habisan.

 

Menariknya, postur tubuh Rudini yang pendek sering kali menjadi bahan ejekan kadet-kadet Belanda. Rekan seangkatannya menceritakan bahwa penampilan Rudini saat itu “sungguh tak meyakinkan” karena tubuhnya kecil, suaranya pelan, dan wajahnya seperti anak-anak. Saking pendeknya, Rudini bahkan harus mengganjal bokongnya dengan bantal setiap kali menyetir mobil agar bisa melihat jalan!

 

Namun, mental Rudini adalah mental baja. Dalam sebuah latihan long march sejauh 60 km per hari selama 4 hari berturut-turut, kakinya terluka parah. Alih-alih menyerah, ia tetap berjalan hingga menembus garis akhir.

 

2. Keberanian di Lapangan dan Gelar “Letnan Antipeluru”

Setelah lulus dan kembali ke Indonesia, Rudini langsung diterjunkan ke medan tempur di Sulawesi Selatan untuk menumpas pemberontakan DI/TII. Di awal tugasnya, ia sempat direndahkan secara diam-diam oleh anak buahnya karena fisiknya yang kecil.

 

Rudini menjawab keraguan itu dengan nyali. Ia nekat berpatroli di sarang musuh hanya dengan membawa 5 orang prajurit—sebuah tindakan yang dianggap gila karena standarnya minimal harus membawa 1 regu penuh. Patroli itu pulang dengan selamat.

BACA JUGA  Tiga Dosen Penguji Nyatakan Arifin Lulus Ujian Tesis Berjudul Perlindungan Jurnalis

 

Puncaknya terjadi ketika pasukannya terjebak dalam hujan tembakan akibat kesalahan strategi atasannya. Jip yang ditumpangi Rudini diberondong habis-habisan dan terkena 27 tembakan telak. Secara ajaib, Rudini selamat tanpa luka berarti! Sejak peristiwa epik itulah, kawan-kawannya menjuluki Rudini sebagai “Letnan Antipeluru”.

 

3. Ketegasan yang Membuat Soeharto Kagum

Saat dipromosikan menjadi Pangdam XIII/Merdeka (1978-1981), Rudini menunjukkan taringnya sebagai pemimpin yang bersih dan anti-intervensi. Ketika terjadi ketegangan politik dalam pemilihan Gubernur Sulawesi Tengah, banyak elit militer yang mencoba ikut campur.

 

Rudini langsung mengeluarkan perintah tegas: Pecat personel militer dalam kurun waktu 1×24 jam bagi siapa saja yang berani mengintervensi pemilihan gubernur!

 

Mendengar ketegasan luar biasa ini, Presiden Soeharto tidak marah, melainkan justru memujinya. “Seorang Pangdam memang harus bersikap begitu,” ujar Soeharto kagum.

 

4. Sang “Bidan” IPDN dan Pengawal Demokrasi

Karier Rudini terus melesat hingga menjadi Pangkostrad, Kasad (Jenderal Bintang 4), hingga Menteri Dalam Negeri (1988–1993) dalam Kabinet Pembangunan V.

 

Saat menjabat sebagai Mendagri inilah, ia mendirikan Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Nasional di Jatinangor pada tahun 1990, yang kelak berubah nama menjadi STPDN dan kini dikenal sebagai IPDN. Untuk menghormati jasanya, namanya diabadikan sebagai nama Balairung Rudini di kampus tersebut.

 

Tak berhenti di situ, pasca-Reformasi tahun 1999, sejarah kembali memanggil sang Jenderal. Ia ditunjuk menjadi Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) pertama untuk memimpin jalannya Pemilu multipartai pertama setelah 44 tahun. Di bawah pengawasannya yang jujur dan tegas, transisi demokrasi Indonesia berjalan aman.

 

Jenderal Rudini wafat pada 21 Januari 2006 dan dimakamkan di TMP Kalibata. Ia adalah bukti nyata bahwa ukuran fisik bukanlah penentu kehebatan seorang manusia, melainkan besarnya nyali, integritas, dan pengabdian kepada negara.

BACA JUGA  Ziarah ke Makam RA Kartini, Bupati Arief : Teruskan Inspirasi, Wujudkan Mimpi Sang Pejuang

 

Sumber: Wikipedia