JERITAN WARGA KALITENGAH: DIDUGA JADI KORBAN POLUSI, KOMPENSASI PT SAPROTAN UTAMA DINILAI TAK SEBANDING DENGAN PENDERITAAN

DEMAK ||Bharatanews.com- Kesabaran warga Desa Kalitengah, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, tampaknya telah mencapai batas. Bertahun-tahun hidup berdampingan dengan aktivitas industri yang menurut warga menimbulkan bau menyengat dan polusi udara, kini mereka secara terbuka meluapkan kekecewaan terhadap kompensasi yang diberikan PT Saprotan Utama.

Di hadapan awak media, warga menyampaikan keluhan yang selama ini mereka pendam. Bau menyengat yang diduga berasal dari aktivitas pabrik disebut kerap menyelimuti permukiman, terutama pada jam-jam tertentu. Kondisi tersebut, menurut warga, menimbulkan rasa mual, pusing, hingga gangguan pernapasan yang mereka rasakan hampir setiap hari.

“Kami tidak butuh janji. Kami butuh udara bersih. Kalau setiap hari harus menghirup bau seperti ini, bagaimana nasib anak-anak dan orang tua kami?” ungkap salah satu warga dengan nada geram.

Kemarahan warga semakin memuncak ketika membandingkan dampak yang mereka rasakan dengan kompensasi yang diterima. Bantuan sebesar Rp50.000 per bulan dan dua renteng susu sachet per rumah dinilai warga tidak mencerminkan kepedulian terhadap beban yang mereka tanggung.

Bagi sebagian warga, kompensasi tersebut dianggap lebih menyerupai formalitas daripada solusi atas persoalan yang mereka hadapi. Mereka menilai nilai bantuan itu jauh dari cukup untuk menjawab kekhawatiran atas kesehatan keluarga yang setiap hari berada di lingkungan yang diduga terdampak polusi.

Menurut warga, persoalan ini bukan lagi sekadar masalah bau tidak sedap, melainkan menyangkut hak masyarakat untuk mendapatkan lingkungan yang sehat dan layak dihuni. Mereka mempertanyakan sejauh mana tanggung jawab sosial perusahaan terhadap warga yang tinggal berdampingan dengan kawasan industri.

“Jangan sampai masyarakat hanya dijadikan penonton di tengah aktivitas industri yang terus berjalan. Kesehatan warga tidak boleh dinilai dengan angka yang dianggap tidak sebanding dengan dampak yang dirasakan,” ujar salah satu tokoh warga.

BACA JUGA  Polresta Surakarta Amankan Suporter Pembawa Flare dan Miras di Laga Persis Solo

Warga kini mendesak Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Demak dan instansi terkait untuk turun langsung melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kualitas udara di kawasan tersebut. Mereka juga meminta hasil pemeriksaan dibuka secara transparan kepada publik agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.

Selain itu, warga menuntut adanya evaluasi serius terhadap pengelolaan lingkungan perusahaan, pemeriksaan kesehatan berkala bagi masyarakat terdampak, serta kompensasi yang dinilai lebih adil dan manusiawi.

Hingga berita ini diterbitkan, warga mengaku masih menunggu langkah nyata dari pihak PT Saprotan Utama untuk menjawab berbagai keluhan yang selama ini mereka suarakan. Sementara itu, keresahan masyarakat terus bergulir dan menjadi perhatian publik di Kabupaten Demak.

Judul lebih tajam:

“Jeritan dari Kalitengah: Diduga Terpapar Polusi, Warga Pertanyakan Tanggung Jawab PT Saprotan Utama”

“Udara Diduga Tercemar, Warga Kalitengah Menilai Kompensasi Tak Seimbang dengan Penderitaan”

“Keluhan Bertahun-Tahun Tak Kunjung Reda, Warga Kalitengah Tuntut Keadilan Lingkungan”

“Warga Mengaku Tercekik Bau Menyengat, Dugaan Dampak Lingkungan Pabrik Jadi Sorotan”

“Kesehatan Dipertaruhkan, Warga Kalitengah Desak Evaluasi Serius Dampak Lingkungan Industri” @sorotan