Jepara Bangun TPST RDF 100 Ton

JEPARA, bharatanews.com — Momentum peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 dimanfaatkan Pemerintah Kabupaten Jepara untuk mencanangkan transformasi besar dalam pengelolaan sampah. Daerah ini akan membangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) berbasis Refuse Derived Fuel (RDF) berkapasitas 100 ton per hari.

Pencanangan digelar di Pantai Tirta Samudera Bandengan, Selasa (24/2/2026), diawali dengan penanaman 20 pohon pesisir yang terdiri dari cemara laut dan ketapang sebagai simbol kepedulian lingkungan dan perlindungan kawasan pantai dari abrasi.

Bupati Jepara Witiarso Utomo menegaskan, pembangunan TPST RDF menjadi langkah strategis untuk mengakhiri pola lama pengelolaan sampah yang bertumpu pada penimbunan di TPA konvensional.

“Ke depan, residu tidak lagi hanya ditimbun. Kita akan proses dengan teknologi. Kami sudah menjalin komunikasi intensif dengan investor teknologi lingkungan, termasuk dari Tiongkok, agar residu sampah bisa bertransformasi menjadi energi terbarukan,” tegas Witiarso.

Menurutnya, dukungan hibah TPST RDF dari Kementerian PUPR akan menjadi fondasi utama proyek tersebut. Melalui teknologi RDF, sampah residu akan diolah menjadi bahan bakar alternatif yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mengurangi beban lingkungan.

Transformasi ini melanjutkan capaian sebelumnya. Sepanjang 2023–2024, Pemkab Jepara telah mengoperasikan 14 unit TPS3R yang tersebar di sejumlah wilayah strategis. Kapasitas pengolahan sampah saat ini mencapai sekitar 28 ribu ton per tahun, yang dikonversi menjadi kompos dan bahan baku daur ulang.

Meski demikian, Witiarso menekankan bahwa keberhasilan program tidak hanya bergantung pada teknologi.

“Ini langkah strategis. Tapi saya tegaskan, teknologi hanyalah alat. Kunci keberhasilan tetap pada perubahan perilaku masyarakat dalam memilah dan mengurangi sampah dari rumah tangga,” pungkasnya.

Melalui HPSN 2026, Jepara menegaskan komitmennya menuju tata kelola sampah modern berbasis energi terbarukan, sekaligus memperkuat visi daerah sebagai kabupaten yang bersih dan berkelanjutan.

BACA JUGA  Ketika Benang Sederhana Menjadi Ruang Kreativitas di Tengah Kesibukan Profesi*